<$BlogDateHeaderDate$>
Ketika Aku Punya Tujuan Mulia Itu....
Tanggal 19 Juni adalah hari di mana aku dinyatakan lulus skripsi dengan perbaikan. Wow, serasa beban beratku sirna dalam sekejap. Aku berpikir untuk liburan dulu sebelum bekerja, hitung-hitung refreshing untuk menghilangkan jenuh mengerjakan skripsi. Eitzz ternyata urusan kampus belum selesai seratus persen tuh, aku masih harus revisi makalah skripsiku hingga tanggal 18 Juli 2008 menjadi deadline pengumpulan hard cover. *Rencana liburan ditunda duonk...* Liburan udah ditunda, masih ada kegiatan lain yang harus dilakukan dan membuat setiap harinya terasa padat bagiku.Tanggal 20 itu Teresa (program director Learning Enterprises) terus menghubungi aku untuk konfirmasi surat pengajuan permohonan visa undangan kepada duta besar Indonesia guna memperlancar kedatangan dua orang sukarelawan dari Inggris.Wow, bakal jadi hari-hari yang menyibukkan nech. Selain harus menyelesaikan revisi tugas akhir aku juga harus membagi konsentrasi dalam mengatur kedatangan teman-teman sukarelawan dari Amerika, Inggris dan Jepang. Tahun ini regulasinya aku semua yang urus,harus bolak-balik ke warnet untuk mengecheck email, menulis surat permohonan visa, dan mengirimkan surat itu ke kedutaan. Belum lagi mencari hostel, travel dari hostel menuju malang, host families, dan sekolah2 tempat mereka melakukan kegiatan sosial dalam bidang pengajaran bahasa Inggris tersebut. Minggu yang padat bagiku, aku harus bolak-balik Malang Surabaya. Tanggal 26, Teresa datang ke Surabaya. Aku harus menemui Teresa nih di Pondok Candra, untung Dian (juniorku di kampus) mau anterin sekalian kenal ama teman2 yang dari Amrik itu. Setelah bertemu dengan Teresa dan Kellina(satu sukarelawan yang telah datang mulai tanggal 24), aku dan Dian pun mengajak mereka jalan2 keliling Surabaya.Awalnya aku pikir di Balai Pemuda ada pameran kebudayaan khas Indonesia, eh nyatanya sampai di Balai Pemuda yang ada cuma pameran lukisan yang membosankan. Jadinya di BP cuma bentar banget, trus karena lapar kami pun mencoba jalan hingga ke sekitaran Balai Kota untuk cari warung-warung pinggir jalan, namun hasilnya mengecewakan lagi..warung-warung di sekitar Balai Kota itu tidak diizinkan lagi berjualan di sana. Kala itu kami berjalan dalam gerimis yang semakin menderas, tubuh kita pun basah kuyub. *Aneh juga sech di musim kemarau ada hujan*. Tak tahan dengan rasa lapar, kami pun pergi mencari makanan yang terdekat dengan lokasi kami saat itu. Banyak pilihan memang, tapi kami memilih masuk ke dalam depot kecil dengan menu sate kambing dan sop buntut. Rasa masakannya tidak terlalu istimewa, tapi yang buat aku ga kepikiran untuk kembali ke depot itu adalah harga yang diberlakukan terkesan menipu dan tempatnya jorok. Duh ampyun dech.... Kedatangan 12 tamu dari Amerika untuk menjadi native speaker ini membuatku merasakan beberapa emosional sekaligus (capek, senang, dan bingung). Untuk melayani mereka aku dan keluargaku lakukannya dengan sesenang hatinya. Cuapek benar, namun saat aku bawa tujuan mulia guna membantu saudara-saudaraku, TUHAN tahu motivasiku sehingga DIA berikan keajaiban-keajaiban tak terduga itu.Thanks buat perubahan positif yang buat aku lebih baik. |
